Kamis, 20 Agustus 2015

1.   KEPEKAAN SOSIAL (SOCIAL SENSITIVITY)
a. Pengertian Kepekaan Sosial
Dewasa ini, lembaga pendidikan khususnya sekolah formal lebih banyak mengorientasikan pada kecerdasan intelektual.Harapan orang tua dan sekolah sejalan beriringan dalam kerangka berpikir yang belum terarah secara sempurna.Bahwa seorang anak atau siswa itu harus mendapatkan ranking teratas, cerdas, banyak memenangkan kejuaraan dalam berbagai bidang studi.
Padahal, dalam kebutuhan kini bukan hanya kecerdasan intelektual saja yang  menjadi faktor utama seorang hebat, tapi terdapat juga ruang dalam menjalin interaksi dan komunikasi dengan lingkungan dan masyarakat. Tentunya kecerdasan intelektual tidak selalu bisa mengakomodir keterampilan bergaul, ini semua lebih merujuk pada Social Sensitivity atau kepekaansocial, kepekaan sosial adalah sautu kecerdasan orang dalam bidanng sosial“Kecerdasan sosial merupakan kemampuan dalam menjalin hubungan dengan orang lain secara terus-menerus” (Moss dan Hunt, 2007, hlm. 103).
Dalam definisi yang diungkapkan oleh Moss dan Hunt menjadi jelas bahwa kecerdasan sosial lebih banyak mengarahkan dan menyumbangkan potensinya dalam menjalin hubungan dengan orang lain dalam jangka waktu terus menerus.
Secara lebih merinci Elliot dalam Suyono, Hadi (2007, hlm. 102) mengatakan bahwa kecerdasan sosial merupakan kemampuan dalam diri seseorang yang meliputi aktivitas :
1) Membaca orang lain dengan akurat.
2) Mampu memprediksi secara tepat isi hati orang lain, suasana hati dan keinginan orang lain.
3) Mampu menyesuaikan diri, mengambil hati, mempengaruhi orang lain dan memimpin orang lain.
4) Memiliki keahlian dalam meminimalisir konflik, ketidakharmonisan hubungan dan pertengkaran dengan orang lain.
      Penjelasan secara lebih detail yang diungkapkan oleh Elliot menunjukkan bahwa kecerdasan sosial merupakan kepekaan seseroang dalam proses bermasyarakat dengan lingkungannya.
b.   Mengaplikasikan Kecerdasan Intelektual ke Dalam kecerdasan Sosial
Dalam penjabaran pada proposal ini peneliti tidak akan mengesampingkan atau menomerduakan kecerdasan intelektual seseorang. Pada hakikatnya pula kecerdasan intelektual merupakan unsur penting dalam mengolah perilaku seseorang.Coba saja bandingkan perilaku orang yang memiliki pendidikan rendah dan tinggi. Secara umum dan idealnya tentu bahwa yang lebih berpendidikan tinggi pastinya akan lebih berperilaku secara baik, hal ini terjadi karena pengaruh lingkungan dan pengetahuan yang diketahui oleh dirinya.
Adapun yang akan digarisbawahi adalah menggabungkan dan mengintegrasikan kecerdasan intelektual dan sosial untuk membentuk karakter siswa. Jadi, secara garis besar bahwa pengetahuan dan keterampilan kecerdasan sosial yang sudah dikuasai dapat diaplikasikan melalui interaksi dengan orang lain, memelihara lingkungan sosial, menghadapi realitas sosial dengan bijaksana, meminimalisir atau mencegah konflik dan memiliki kesadaran etis dalam menangkap realitas sosial.
Kepekaan sosial apabila dikaji secara spesifik dalam ranah perilaku menurut Karl Albrecht dalam Suyono, Hadi (2007, hlm. 108).
Dalam klasifikasi perilaku antara orang yang memiliki toxic effect, yaitu perasaan orang tidak berharga, marah, frustrasi dan bersalah, dibedakan lagi dengan orang yang melakukan nourishing effect, yang berarti orang-orang mempunyai nilai, rasa hormat, tegas, membesarkan hati orang lain dan cakap.

Pembedaan antara kedua jenis ranah perilaku ini sagat erat kaitannya dalam proses transferring pengetahuan yang merujuk pada perilaku. Apabila seseorang berada dalam kondisi diri sesuai dengan pengetahuan dan lingkungan kondusif dapat dipastikan termasuk ke dalam golongan yang memiliki kepekaan sosial yang baik pula.
   Dalam pandangan Khilstrom dan Cantor dalam Suyono, Hadi (2007, hlm. 110) menemukan bentuk perilaku kepekaansocial dalam kajian keterampilan sosial yang berupa kompetensi sosial, diantaranya adalah :
1)      Menerima orang lain.
2)      Mengakui kesalahan yang diperbuat.
3)      Menunjukkan perhatian pada dunia yang lebih luas.
4)      Tepat waktu dalam membuat perjanjian.
5)      Mempunyai hati nurani sosial.
6)      Berpikir, berbicara dan bertindak secara sistemik.
7)      Menunjukkan rasa ingin tahu.
8)      Tidak membuat penilaian tergesa-gesa.
9)      Membuat penilaian secara obyektif.
10)  Mengenal tuntutan sosial, aksi sosial dan merancang reformasi sosial.
11)  Mengembangkan belas kasih dan memerhatikan sesama.

Beberapa kompetensi sosial diatas sangat menunjukkan bahwa kepekaan sosial memang bertujuan untuk membentuk kesadaran dalam menjalin komunikasi dan interaksi di dalam masyarakat dan lingkungannya.