1.
KEPEKAAN
SOSIAL (SOCIAL SENSITIVITY)
a.
Pengertian Kepekaan
Sosial
Dewasa
ini, lembaga pendidikan khususnya sekolah formal lebih banyak mengorientasikan
pada kecerdasan intelektual.Harapan orang tua dan sekolah sejalan beriringan
dalam kerangka berpikir yang belum terarah secara sempurna.Bahwa seorang anak
atau siswa itu harus mendapatkan ranking teratas, cerdas, banyak memenangkan
kejuaraan dalam berbagai bidang studi.
Padahal,
dalam kebutuhan kini bukan hanya kecerdasan intelektual saja yang menjadi faktor utama seorang hebat, tapi
terdapat juga ruang dalam menjalin interaksi dan komunikasi dengan lingkungan
dan masyarakat. Tentunya kecerdasan intelektual tidak selalu bisa mengakomodir
keterampilan bergaul, ini semua lebih merujuk pada Social Sensitivity atau kepekaansocial, kepekaan sosial adalah sautu
kecerdasan orang dalam bidanng sosial“Kecerdasan sosial merupakan kemampuan dalam
menjalin hubungan dengan orang lain secara terus-menerus” (Moss dan Hunt, 2007,
hlm. 103).
Dalam
definisi yang diungkapkan oleh Moss dan Hunt menjadi jelas bahwa kecerdasan
sosial lebih banyak mengarahkan dan menyumbangkan potensinya dalam menjalin
hubungan dengan orang lain dalam jangka waktu terus menerus.
Secara
lebih merinci Elliot dalam Suyono, Hadi (2007, hlm. 102) mengatakan bahwa
kecerdasan sosial merupakan kemampuan dalam diri seseorang yang meliputi
aktivitas :
1)
Membaca orang lain dengan akurat.
2) Mampu memprediksi secara tepat isi hati orang
lain, suasana hati dan keinginan orang lain.
3) Mampu menyesuaikan diri, mengambil
hati, mempengaruhi orang lain dan memimpin orang lain.
4) Memiliki keahlian dalam meminimalisir
konflik, ketidakharmonisan hubungan dan pertengkaran dengan orang lain.
Penjelasan secara lebih detail yang
diungkapkan oleh Elliot menunjukkan bahwa kecerdasan sosial merupakan kepekaan
seseroang dalam proses bermasyarakat dengan lingkungannya.
b.
Mengaplikasikan Kecerdasan Intelektual
ke Dalam kecerdasan
Sosial
Dalam penjabaran pada proposal ini peneliti tidak
akan mengesampingkan atau menomerduakan kecerdasan intelektual seseorang. Pada
hakikatnya pula kecerdasan intelektual merupakan unsur penting dalam mengolah
perilaku seseorang.Coba saja bandingkan perilaku orang yang memiliki pendidikan
rendah dan tinggi. Secara umum dan idealnya tentu bahwa yang lebih
berpendidikan tinggi pastinya akan lebih berperilaku secara baik, hal ini
terjadi karena pengaruh lingkungan dan pengetahuan yang diketahui oleh dirinya.
Adapun yang akan digarisbawahi adalah menggabungkan
dan mengintegrasikan kecerdasan intelektual dan sosial untuk membentuk karakter
siswa. Jadi, secara garis besar bahwa pengetahuan dan keterampilan kecerdasan
sosial yang sudah dikuasai dapat diaplikasikan
melalui interaksi dengan orang lain, memelihara lingkungan sosial, menghadapi
realitas sosial dengan bijaksana, meminimalisir atau mencegah konflik dan
memiliki kesadaran etis dalam menangkap realitas sosial.
Kepekaan sosial apabila
dikaji secara spesifik dalam ranah perilaku menurut Karl Albrecht dalam Suyono,
Hadi (2007, hlm. 108).
Dalam
klasifikasi perilaku antara orang yang memiliki toxic effect, yaitu perasaan orang tidak berharga, marah, frustrasi
dan bersalah, dibedakan lagi dengan orang yang melakukan nourishing effect, yang berarti orang-orang mempunyai nilai, rasa
hormat, tegas, membesarkan hati orang lain dan cakap.
Pembedaan antara kedua jenis ranah perilaku ini
sagat erat kaitannya dalam proses transferring
pengetahuan yang merujuk pada perilaku. Apabila seseorang berada dalam kondisi
diri sesuai dengan pengetahuan dan lingkungan kondusif dapat dipastikan
termasuk ke dalam golongan yang memiliki kepekaan
sosial yang baik pula.
Dalam
pandangan Khilstrom dan Cantor dalam Suyono, Hadi (2007, hlm. 110) menemukan
bentuk perilaku kepekaansocial dalam kajian keterampilan sosial yang berupa kompetensi sosial, diantaranya adalah :
1)
Menerima
orang lain.
2)
Mengakui
kesalahan yang diperbuat.
3)
Menunjukkan
perhatian pada dunia yang lebih luas.
4)
Tepat
waktu dalam membuat perjanjian.
5)
Mempunyai
hati nurani sosial.
6)
Berpikir,
berbicara dan bertindak secara sistemik.
7)
Menunjukkan
rasa ingin tahu.
8)
Tidak
membuat penilaian tergesa-gesa.
9)
Membuat
penilaian secara obyektif.
10) Mengenal tuntutan sosial, aksi sosial
dan merancang reformasi sosial.
11) Mengembangkan belas kasih dan
memerhatikan sesama.
Beberapa kompetensi sosial diatas sangat menunjukkan
bahwa kepekaan sosial memang bertujuan untuk membentuk
kesadaran dalam menjalin komunikasi dan interaksi di dalam masyarakat dan
lingkungannya.